Sabtu, 13 November 2010

DZIKIR SETELAH SHOLAT FARDHU

    Sebagaimana ibadah yang lainnya, dzikir adalah ibadah tauqif. artinya dalam segala kaifiyah/tata caranya hendaknya didasarkan pada dalil yang shohih. tidaklah diperkenankan kita menambah atau mengurangi lafadz dzikir semau kita sendiri. sebab hal ini akan berakibat pada kesalahan bahkan tidak diterimanya amalan kita. berikut akan disampaikan hal-hal yang dicontohkan Nabi shollallohu 'alaihi wasallam berkenaan tentang bagaimana lafadz dzikir, bilangannya, waktunya dan lain-lain.  

1.      Dzikir yang di syari’atkan untuk dibaca ba’da sholat fardhu

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ (3×)، اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ
“Aku memohon ampun kepada Alloh (3X). ya Alloh, Engkau Maha sejahtera, dan dari-Mu kesejahteraan. Maha suci Engkau, wahai Robb pemilik keagungan dan kemuliaan.[1] (Dibaca setiap selesai sholat lima waktu)

Penjelasan: Dzikir di atas tidak boleh ditambah-tambahi dengan kalimat yang tidak ada asalnya dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, seperti di bawah ini:[2]
)    وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ، فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ، وَأَدْخِلْناَ الْجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ(

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهْوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
“Tiada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan hanya Alloh yang maha esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Alloh, tiada yang dapat mencegah apa yang Engkau beri dan tidak ada yang member apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya dari siksa-Mu.[3]

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
“Tiada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan hanya Alloh yang maha esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Alloh. Tiada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan hanya Alloh. Kami tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Bangi-Nya nikmat, anugrah, dan pujian yang baik. Tiada Ilah (yang berhak disembah dengan benar) melainkan hanya Alloh, dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.[4]

لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Tiada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan hanya Alloh yang maha esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia Maha menghidupkan dan Maha mematikan, Dia maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca 10x setiap selesai sholat maghrib dan Subuh)[5]. Kemudian membaca:

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Ya Alloh, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah dengan baik kepada-Mu.[6]  Kemudian membaca:

سبحان الله (33×)، الحمد لله (33×)، الله أكبر (3)
Mahasuci Alloh (33x), Segala puji bagi Alloh (33x), Alloh Maha Besar (33x),
kemudian untuk melengkapinya menjadi 100, hendaklah membaca do’a:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
“Tiada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan hanya Alloh yang maha esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia maha Kuasa atas segala sesuatu”.[7]

Kemudian membaca ayat kursi [8], surat al Ikhlash, al Falaq dan an Naas,[9] (Dibaca setiap selesai sholat fardhu)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا ، وَرِزْقًا طَيِّبًا ، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya Alloh, sesungguhnya aku mohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima” (Dibaca setelah sholat shubuh).[10]

2.      Membaca tasbih dengan suara pelan dan tidak dilakukan dengan berjama’ah (beramai-ramai).

Firman Alloh:
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (al A’rof: 55)

Dan Firman Alloh:
Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang lalai. (al A’rof: 205)

Rosululloh melarang berdzikir dengan suara keras sebagaimana riwayat Imam Bukhori dan Muslim. Imam syafi’I juga menganjurkan agar Imam dan Makmum tidak mengeraskan bacaan dzikirnya.[11]

3.      Menghitung dzikir dengan jemari tangan yang kanan, Sabda Rosululloh:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُ التَّسْبِيحَ بِيَمِينِهِ
Dari Abdulloh bin ‘Amr berkata: saya melihat Rosululloh menghitung bacaan tasbih dengan tangan kanannya. (HR. Nasa’i)

Bahkan “Rosululloh memerintahkan kaum wanita menghitung tashbih, tahmid dengan jemari tangan, sebab jari-jari akan ditanya dan diminta untuk berbicara pada hari Kiamat” (HR. Abu Dawud dari Humaithoh, shohih)

4.      Kekeliruan-kekeliruan yang sering terjadi setelah salam, di antaranya:
  1. Mengusap muka setelah salam[12]
  2. Berdzikir secara berjama’ah setelah salam dengan dipimpin oleh imam.[13]
  3. Berdzikir dengan bacaan yang tidak ada nash/dalilnya, baik lafadz atau bilangannya. Atau berdzikir dengan dasar hadits yang dho’if/lemah bahkan maudhu’/palsu. Seperti: sesudah salam membaca Alhamdulillah, membaca al-fatihah setelah salam dll.
  4. Saling berjabat tangan seusai salam (salam-salaman). Meski berjabat tangan sangat dianjurkan, namun jika di lazimkan setelah sholat fardhu, Nabi dan para sahabat tidak mencontohkan/mengajarkan syari’at yang seperti ini.[14]

-Wallohu A’lam-

(Tulisan: Ainur Rofiq eL-Firdaus)

[1] Hadits Riwayat Muslim, dari Tsauban rodliyallohu ‘anh
[2] Misykatul Mashobih (1/303)
[3] Hadits Riwayat Bukhori dan Muslim, dari Abu Sufyan.
[4] Nabi shollallohu ‘alaihi wsallam bertahlil dengan bacaan ini setiap selesai sholat. (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Dari Abdulloh bin Zubair rodliyallohu ‘anhu)
[5] Nabi bersabda: Barang siapa setelah sholat Maghrib dan shubuh membaca dzikir tersebut 10x, maka Alloh akan tulis stiap 1 kali 10 kebaikan, dihapus 10 kejelekan, diangkat 10 derajat, Alloh lindungi dari setiap kejelekan dan Alloh lindungi dari godaan syaitan yang terkutuk”. (HR. Turmudzi, dihasankan al Bani, lih. Silsilah hadits shohih)
[6] Wahai Mu’adz, aku wasiatkan padamu.. jangan sekali-kali kamu meninggalkan bacaan di setiap akhir sholat, yaitu: Allohumma a’inni ‘ala dzikrik…dst,” (HR. Abu dawud, nasa’I dari Mu’adz bin Jabal).
[7] Nabi bersabda: “Barang siapa yang membaca kalimat tersebut setiap selesai sholat, akan diampuni kesalahannya, sekalipun seperti buih di lautan”. (HR. Muslim, Ahmad, dari Abu Huroiroh)
[8] Dari Abu Umamah, Rosululloh bersabda: Barang siapa yang membaca ayat kursi setelah sholat wajib, maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali maut. (HR. Nasa’i)
[9] Dari ‘uqbah bin Amir berkata: Rosululloh telah memerintahkan aku membaca ‘Mu’awwidzat” pada setiap akhir sholat (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)
[10] Dari Ummu Salamah, Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam jika setelah salam pada sholat shubuh membaca do’a tersebut.” (HR. Ibnu Majah)
[11] Lihat Fathul Bari (II/326) dan Akhtho’ul Mushollin (305)
[12] Mengusap muka setelah salam, haditsnya sangat lemah bahkan maudlu’ jadi tidak boleh di amalkan/dipraktekkan (Lihat silsilah hadits dho’if dan maudlu’, 660)
[13] Tidak ada contoh dan ajaran dari Nabi. Al I’tishom (syathibi 455-456), as sunan wal Mubtada’at (hal 70)
[14] Akhtho’ul Mushollin, (hal 294)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar